Kamis, 07 April 2016

kajian pustaka

Edit Posted by with No comments
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.       Deskripsi Teori
1.      Pembelajaran Matematika
Pembelajaran dapat didefinisikan sebagai suatu sistem atau proses membelajarkan subjek didik/pembelajar yang direncanakan atau desain, dilaksanakan, dievaluasi secara sistematis agar subjek didik/pembelajar dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien. Pembelajaran ialah membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah.[1]
Pembelajaran matematika merupakan suatu cara merencanakan, mengkonsep, dan mengaplikasikan materi-materi matematika dalam kehidupan sehari-hari dengan menentukan objek pembelajaran. Menurut Nikson , “ pembelajaran matematika adalah membantu siswa/siswi untuk membangun kosep-konsep/prinsip-prinsip matematika dengan kemampuan sendiri melalui proses internalisasi sehingga konsep/prinsip itu terbangun kembali, transformasi informasi yang diperoleh menjadi konsep/prinsip baru”.[2]
Text Box: 8Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika adalah suatu proses yang diselengarakan oleh guru untuk membelajarkan siswa guna memperoleh ilmu pengetahuan dan keterampilan matematika.
a.      Mengajar Matematika
Mengajar atau “teaching” adalah membantu peserta didik memperoleh informasi, ide, keterampilan, nilai, cara berfikir, sarana untuk mengekspresikan dirinya dan cara-cara belajar bagaimana belajar.[3] Artinya mengajar pada hakikatnya suatu proses, yaitu proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada disekitar siswa sehingga menumbuhkan dan mendorong siswa belajar.[4] Atau dikatakan , mengajar sebagai upaya menciptakan kondisi yang kondusif untuk berlangsungnya kegiatan belajar bagi para siswa. Mengajar adalah segala upaya yang disengaja dalam rangka memberi kemungkinan bagi siswa untuk terjadinya proses belajar sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan. Karenanya belajar merupakan suatu proses yang kompleks. Tidak hanya sekedar menyampaikan informasi dari guru kepada siswa. Banyak kegiatan maupun tindakan yang harus dilakukan, terutama bila diinginkan hasil belajar lebih baik pada seluruh peserta didiknya.
Matematika berkenaan dengan gagasan yang berstruktur yang hubungan-hubungannya diatur secara logis, dimana konsep-konsepnya abstrak dan penalarannya deduktif.[5] Sedangkan menurut Hudoyo, “matematika adalah berkenaan dengan ide-ide, struktur-struktur dan hubungan-hubungannya yang diatur menurut urutan yang logis”.
Berdasarkan definisi tentang mengajar dan matematika diatas dapat disimpulkan bahwa mengajar matematika adalah suatu usaha yang dilakukan oleh guru untuk membimbing siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan matematikanya yang diatur secara terstruktur menurut urutan yang logis.
b.      Belajar Matematika
Secara etimologis belajar memiliki arti “ berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu”. Disini, usaha untuk mencapai kepandaian atau ilmu merupakan usaha manusia untuk memenuhi kebutuhannya mendapatkan ilmu atau kepandaian yang belum dipunyai sebelumnya. Sehingga dengan belajar itu manusia menjadi tahu, memahami, mengerti, dapat melaksanakan dan memiliki tentang sesuatu. Pengertian belajar sudah banyak dikemukakan oleh para ahli psikologi termasuk ahli psikologi pendidikan. Menurut pengertian secara psikologis, belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasu itu.[6] “Belajar merupakan suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan”.[7] Proses Belajar mengajar dapat diartikan sebagai suatu rangkaian interaksi antara siswa dan guru dalam rangka mencapai tujuannya.[8]
Matematika adalah ilmu pengetahuan struktur dan hubungan-hubungannya, simbol-simbol diperlukan, matematika berkenaan dengan ide-ide abstrak yang tersusun secara hirarkis dan penalarannya deduktif. Matematika dapat dipandang sebagai suatu ide yang dihasilkan oleh ahli-ahli matematika dan objek penalarannya dapat berupa benda-benda atau makhluk, atau dapat dibayangkan dalam alam pikiran kita. Dalam proses belajar mengajar matematika, seorang siswa tidak dapat mengetahui jenjang yang lebih tinggi tanpa melalui dasar atau hal-hal yang merupakan prasyarat dalam kelanjutan program pengajaran selanjutnya. Untuk mempelajari matematika dituntut kesiapan siswa dalam menerima pelajaran, kesiapan yang dimaksud adalah kematangan intelektual dan pengalaman belajar yang telah dimiliki oleh anak, sehingga hasil belajar lebih bermakna bagi siswa. 
Belajar matematika yang terputus-putus akan mengganggu proses belajar. Yaitu belajar matematika bagi seorang anak merupakan proses yang kontinu sehingga diperlukan pengetahuan dan pengertian dasar matematika yang baik pada permukaan belajar untuk belajar selanjutnya. Proses belajar matematika haruslah diawali dengan mempelajari konsep-konsep yang lebih mendalam dengan menggunakan konsep-konsep sebelumnya atau dengan kata lain bahwa proses belajar matematika adalah suatu rangkaian kegiatan belajar mengajar dalam interaksi hubungan timbal balik antara siswa dengan guru yang berlangsung dalam lingkungan yang ada disekitarnya untuk mencapai tujuan tertentu. 
Dengan demikian, untuk dapat menguasai materi pelajaran matematika pada tingkat kesukaran yang lebih tinggi diperlukan penguasaan materi tertentu sebagai pengetahuan prasyarat.  Penguasaan yang tinggi akan dapat dimiliki siswa dalam mempelajari matematika bila guru tidak hanya menuntut siswanya untuk menghafal rumus saja, tetapi lebih penting adalah memberikan pemahaman yang penuh terhadap konsep-konsep yang disampaikan.
Dari uraian di atas tentang definisi belajar dan matematika, maka dapat disimpulkan bahwa belajar matematika adalah proses dalam diri siswa yang hasilnya berupa perubahan pengetahuan, sikap, keterampilan dan untuk menerapkan konsep-konsep, struktur dan pola dalam matematika sehingga menjadikan siswa berfikir logis, kreatif, sistematis dalam kehidupan sehari-hari. Belajar matematika akan lebih berhasil bila mengarah pada pengembangan berfikir, pengembangan konsep atau ide-ide terdahulu yang dipersiapkan untuk mempelajari dan menguasai konsep baru.
2.      Hasil Belajar Matematika
Prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan, baik secara individual maupun kelompok.[9] “ Prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan, yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja, baik secara individual maupun kelompok dalam bidang kegiatan tertentu”. Sedangkan “Belajar ialah suatu proses perubahan prilaku seseorang setelah mempelajari suatu objek (pengetahuan, sikap, atau keterampilan)”.[10]
Setelah menelusuri uraian diatas, maka dapat dipahami makna dari kata “ prestasi (Hasil Belajar)” dan  “belajar”. Prestasi pada dasarnya adalah hasil yang diperoleh dari suatu aktivitas. Sedangkan belajar pada dasarnya adalah suatu proses yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu, yakni perubahan tingkah laku. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar Matematika (Hasil Belajar Matematika) adalah hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas belajar matematika.



3.      Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team Acievemen Division
a.      Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif  (Cooperative learning) merupakan strategi pembelajaran melalui kelompok kecil siswa yang saling bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar. Bern dan Erickson mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang mengorganisir pembelajaran dengan menggunakan kelompok belajar kecil di mana siswa bekerja bersama untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pemebelajaran kooperatif adalah suatu strategi pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif  yang anggotanya terdiri dari 2 sampai 5 orang, dengan struktur kelompoknya yang bersifat heterogen. Keberhasilan belajar dari kelompok tergantung pada kemampuan dan aktivitas anggota kelompok, baik secara individual maupun secara kelompok. Sehubungan dengan pengertian tersebut, Johnson, et al., 1994 ; Hamid Hasan, 1996, menegaskan bahwa belajar kooperatif adalah pemanfaatan kecil ( 2 – 5 orang ) dalam pembelajaran yang memungkinkan siswa bekerja bersama untuk memaksimalkan belajar mereka dan belajar anggota lainnya dalam kelompok. Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran kelompok yang memiliki aturan-aturan tertentu. Prinsip dasar pembelajaran kooperatif adalah siswa membentuk kelompok kecil dan saling mengajar sesamanya untuk mencapai tujuan bersama. Dalam pembelajaran kooperatif siswa pandai mengajar siswa yang kurang pandai tanpa merasa dirugikan. Siswa kurang pandai dapat belajar dalam suasana yang menyenangkan karena banyak teman yang membantu dan memotivasinya. Siswa yang sebelumnya terbiasa bersikap pasif setelah menggunakan pembelajaran kooperatif akan terpaksa berpartipasi secara aktif agar bisa diterima oleh anggota kelompoknya.
 Pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih kompeten oleh guru atau diarahkan oleh guru. Secara umum pembelajaran kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru, dimana guru menetapkan tugas dan pertanyaan-pertanyaan serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang dirancang untuk membantu peserta didik menyelesaikan masalah yang dimaksud. Guru biasanya menetapkan bentuk ujian tertentu pada akhir tugas.
b.      Model Pembelajaran Kooperatif  Tipe Student Team Acievmen Division
Metode ini dikembangkan oleh Robert Slavin dan kawan–kawan dari universitas John Hopkins. Metode ini digunakan para guru untuk mengajarkan informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu, baik melalui penilaian verbal maupun tertulis. Langkah – langkahnya :
1.        Para siswa di dalam kelas dibagi menjadi beberapa kelompok atau tim, masing – masing terdiri atas 4 atau 5 anggota. Tiap kelompok memiliki anggota yang heterogen, baik jenis kelamin, ras, etnik, maupun kemampuan (tinggi, sedang, rendah).
2.        Tiap anggota tim/kelompok menggunakan lembar kerja akademik dan kemudian saling membantu untuk menguasai bahan ajar melalui tanya jawab atau diskusi antar sesama anggota tim/ kelompok.
3.        Secara individual atau tim, tiap minggu atau tiap dua minggu akan mengevaluasi untuk mengetahui penguasaan mereka terhadap bahan akademik yang telah dipelajari.
4.        Tiap siswa dan tiap tim diberi skor atas penguasaannya terhadap bahan ajar, dan kepada siswa secara individual atau tim yang meraih prestasi tinggi atau memperoleh skor sempurna diberi penghargaan. Kadang – kadang beberapa atau semua tim memperoleh penghargaan jika mampu meraih suatu criteria atau srandar tertentu.
Tabel 2.1. Tahapan Pembelajaran kooperatif STAD
Tahapan
Tingkah Laku Guru
Tahap 1
present goals and set
Menyampaikan tujuan dan memper siapkan peserta didik
Menjelaskan tujuan pembelajaran dan mempersiapkan peserta didik siap belajar.
Tahap 2  
present information
Menyajikan informasi
Mempresentasikan informasi kepada paserta didik secara verbal.
Tahap 3  
organize students into learning teams
Mengorganisir peserta didik ke dalam tim – tim belajar
Memberikan penjelasan kepada peserta didik tentang tata cara pembentukan tim belajar dan membantu kelompok melakukan transisi yang efisien.
Tahap 4 
assist team work and study
Membantu kerja tim dan belajar
Membantu tim- tim belajar selama peserta didik mengerjakan tugasnya.

Tahap  5  
test on the materials
Mengevaluasi
Menguji pengetahuan peserta didik mengenai berbagai materi pembelajaran atau kelompok- kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
Tahap  6  
provide recognition
Memberikan pengakuan atau penghargaan
Mempersiapkan cara untuk mengakui usaha dan prestasi individu maupun kelompok.
4.      Pembelajaran Berbasis Masalah
a.      Pengertian Pembelajaran Berbasis Masalah
Menurut Nurhadi, dkk, “Pengajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) adalah suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa  untuk belajar tentang cara berfikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran”.[11]
Pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang digunakan untuk merangsang siswa untuk berfikir tingkat tinggi dalam situasi belajar yang berorientasi pada masalah dunia nyata.
Lebih lanjut Nurhadi dkk,  mengemukakan “pembelajaran berbasis masalah dikenal dengan nama lain seperti : Project Based Teaching (pembelajaran proyek), Experience-Based Education (pendidikan berdasarkan pengalaman) Utenthentic Learning (Pembelajaran Autentik), dan Anchored Instruction (pembelajaran berakar pada kehidupan nyata)”.[12]
Strategi pembelajaran berbasis masalah ini menekankan akan pentingnya lingkungan alamiah diciptakan supaya proses belajar mengajar di kelas lebih hidup dan lebih bermakna karena strategi pembelajaran ini menyediakan kesempatan kepada siswa untuk melakukan kegiatan-kegiatan belajar secara aktif melalui kegiatan mengalami sendiri dan memecahkan masalah. Jika strategi pembelajaran ini bisa diterapkan dengan baik, diharapkan siswa akan terlatih untuk berfikir kritis dan dapat mengaitkan antara apa yang mereka peroleh di kelas dengan kehidupan sehari-hari mereka.
Supaya siswa dapat belajar lebih efektif guru harus mendapatkan informasi tentang konsep pembelajaran ini serta penerapannya. Adapun tugas guru dalam pembelajaran ini adalah menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan dan mempasilitasi penyelidikan dan dialog, para siswa didorong untuk mencari pengetahuan sendiri bukan hanya dijejali dengan pengetahuan.
b.      Ciri – Ciri Pembelajaran Berbasis Masalah
Ibrahim dan Nur merumuskan ciri-ciri pengajaran berbasis masalah yaitu:
1.       Pengajuan pertanyaan atau masalah
2.       Berfokus pada keterkaitan antar disiplin
3.       Penyelidikan autentik
4.       Menghasilkan produk atau karya dan memamerkannya.[13]
Adapun yang menjadi ciri-ciri dari pembelajaran berbasis masalah ini adalah siswa menyadari akan pentingnya belajar siswa secara individu atau kelompok untuk terciptanya pemahaman yang mendalam.
Bekerjasama dalam kelompok juga memberikan banyak peluang untuk dapat berbagi pengalaman dan dialog untuk mengembangkan ketrampilan berdialog dan bertukar pendapat.
c.       Tujuan Pembelajaran Berbasis Masalah
Ibrahim dan Nur menegaskan bahwa pengajaran berbasis masalah dikembangkan untuk :
1.      Membantu siswa mengembangkan kemampuan berfikir dan  pemecahan masalah.
2.      Belajar tentang berabagai peran orang dewasa melalui pelibatan meraka dalam pengalaman nyata atau simulasi.
3.      Menjadi pembelajaran yang otonom dan mandiri.[14]
d.      Lingkungan Belajar dan Sistem Pembelajaran Berbasis Masalah
Guru memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan kuantitas dan kualitas pembelajaran yang dilaksanakannya. Sebagai learning manager, guru harus mampu mengelola kelas sebagai lingkungan belajar yang baik yang dapat menantang dan merangsang siswa untuk belajar, memberikan rasa aman dan kepuasan untuk mencapai tujuan.
 “Lingkungan belajar dan sistem pengajaran berbasis masalah dicirikan oleh sifatnya yang terbuka, ada proses demokrasi dan peranan siswa yang aktif”.[15] Dengan adanya sifat terbuka dan demokrasi dalam pembelajaran berbasis masalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat secara aktif dalam mengemukakan ide dan pendapatnya secara terbuka. Siswa tidak akan merasa kaku ataupun tertekan baik dalam menanyakan suatu permasalahan ataupun dalam menanggapi pertanyaan yang diajukan oleh gurunya atau temannya. Dengan demikian kegiatan belajar mengajar akan lebih hidup dan menyenangkan.
Pengelolaan pembelajaran berbasis masalah biasanya terdiri dari lima tahapan utama, yaitu :
Tahap 1 : Orientasi Siswa pada masalah
Pada tahap ini, guru memperkenalkan siswa dengan situasi masalah yang berkaitan dengan materi pelajaran. Dalam hal ini, guru harus memberikan informasi yang sebanyak-banyaknya kepada siswa mengenai masalah yang akan dipecahkan atau diteliti, menjelaskan tujuan yang akan dicapai dan mejelaskan logistik yang dibutuhkan oleh siswa untuk melakukan penyelidikan atau penyelesaian masalah. Guru juga harus memotivasi siswa supaya terlibat dalam memecahkan masalah.
Tahap 2 : Mengorganisasikan siswa untuk belajar
Peran guru dalam pembelajaran berbasis masalah adalah sebagai fasilitator dan motivator. Guru harus mengatur siswa bagaimana mereka harus menjalankan tugasnya (secara individu atau kelompok), mengorganisasikan pembelajaran di sekitar pertanyaan dan masalah yang kedua-duanya secara sosial penting dan secara individu bermakna bagi siswa.



Tahap 3 : Membimbing penyelidikan individual dan kelompok
Pembelajaran berbasis masalah merupakan pendekatan pembelajaran yang memperkenankan siswa untuk mempelajari konteks bermakna. Siswa mengembangkan keterampilan berfikir dan pemecahan masalah yang penting dalam konteks kehidupan nyata. Agar tugas-tugas sekolah dapat bermakna bagi siswa, maka guru harus membantu siswa untuk belajar memecahkan masalah dengan memberikan tugas-tugas yang memiliki konteks kehidupan nyata dan kaya dengan kandungan akademik serta keterampilan yang terdapat dalam konteks dunia nyata. Untuk dapat memecahkan masalah yang ditugaskan oleh guru, siswa harus melakukan penyelidikan terhadap masalah tersebut baik secara individual maupun kelompok. Hal ini tidak bisa terlepas dari bimbingan guru.
Tahap 4 : Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Pembelajaran berbasis masalah “Menuntut siswa untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata atau artefak dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang mereka temukan”.[16]
Untuk dapat menyajikan produk atau hasil karya, siswa memerlukan bimbingan guru dalam merencanakan dan menyiapkan hasil karya tersebut.



Tahap 5 : Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Salah satu hal yang juga merupakan bagian penting dalam pengajaran berbasis masalah adalah refleksi. Refleksi adalah “Cara berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau berfikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa yang lalu”[17]
 Dengan demikian yang dimaksud refleksi pada tahap ini adalah pengkajian ulang terhadap proses penyelidikan atau pemecahan masalah. Dalam hal ini, guru harus membantu siswa bagaimana mereka harus melakukan refleksi dan evaluasi terhadap penyelidikan yang telah mereka lakukan. Untuk lebih jelasnya tentang kelima tahapan tersbut dapat di lihat dalam tabel berikut :
Tabel 2.2. Tahapan Pembelajaran Berbasis Masalah
Tahapan
Tingkah Laku Guru
Tahap 1
Orientasi siswa kepada masalah
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, memotivasi siswa agar terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya
Tahap 2
Mengorganisasikan siswa untuk belajar
Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut
Tahap 3
Membimbing penyelidikan individual dan kelompok
Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalahnya
Tahap 4
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Guru membantu siswa merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai, seperti : laporan video, model serta membantu mereka berbagi tugas dengan temannya
Tahap 5
Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Guru membantu siswa melukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan
B.        Hasil Penelitian yang Relevan
Berdasarkan hasil penelitian berbentuk skripsi oleh beberapa  peneliti sebelumnya, yaitu:
1.         Penelitian yang dilakukan oleh Raodah Nim: 15.1.04.1.103 dengan judul: “Pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah dengan Sistem Penilaian Portofolio terhadap Ketuntasan Belajar PAI pada siswa Kelas VII SMP Islam Nurul Hikmah Langko Lingsar Tahun Pelajaran 2008/2009”. Hasil penelitiannya menyebutkan bahwa ada Pengaruh pembelajaran berbasis Masalah dengan system Penilaian Portofolio terhadap Ketuntasan Belajar PAI pada siswa Kelas VII SMP Islam Nurul Hikmah Langko Lingsar Tahun Pelajaran 2008/2009, sehingga hipotesis yang diajukan dinyatakan diterima. Hal itu dibuktikan dengan hasil analisis data yang dilakukan menunjukkan nilai atau angka r hitung lebih besar dari pada r table.  
2.         Penelitian yang dilakukan oleh Rauhun Nim: 15.1.07.4.080 dengan judul: “Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Acjievement Division) terhadap Hasil Belajar Matematika Pada materi Pokok Sistem Persamaan Linear Dua Variabel Siswa Kelas X SMKN 6 Mataram Tahun Ajaran 2011/2012”. Adapun hasil penelitian menunjukkan bahwa Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dapat mempengaruhi hasil belajar matematika Pada materi Pokok Sistem Persamaan Linear Dua Variabel Siswa Kelas X SMKN 6 Mataram Tahun Ajaran 2011/2012, Pernyataan ini didukung oleh t hitung yang diperoleh lebih besar dari ttabel yaitu 27,76 > 1,67.
3.         Penelitian yang dilakukan oleh Iroyani Nim: 15.1.04.6.030 dengan judul: “Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Terhadap Motivasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Sosiologi di Kelas XI MA Thohir Yasin Lendang Nangka Kecamatan Masbagik Lombok Timur”. Adapun hasil penelitian menunjukkan bahwa Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Berpengaruh Terhadap Motivasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Sosiologi di Kelas XI MA Thohir Yasin Lendang Nangka Kecamatan Masbagik Lombok Timur Tahun pelajaran 2008/2009. Hal ini dapat diketahui dari hasil analisis data yang diperoleh persamaan regresi Y= 9,596 + 0,542 X, hal ini dapat diprediksikan bahwa variable Y rata-rata akan berubah sebesar 0,542 untuk setiap unit perubahan yang terjadi pada variable X terhadap Y adalah 54%.



Tabel 2.3. Analisis Telaah Pustaka
No.
Nama
Metode PBL dan Kooperatif tipe STAD
Jenis penelitian
Materi Penelitian
1.
Raodah
PBL saja
Penelitian kuantitatif deskriftif
Mata Pelajaran PAI
2.
Rauhun
Kooperatif Tipe STAD saja
Eksperimen
SPLDV
3.
Iroyani
Kooperatif Tipe STAD saja
Penelitian kuantitatif deskriftif
Mata Pelajaran Soiologi
4.
Peneliti
Ya, Metode PBL dan Koofeeratif tipe STAD
Eksperimen
  Aljabar

Berdasarkan pemaparan tabel di atas terlihat beberapa perbedaan dan persamaan antara penelitian terdahulu dengan penelitian yang  akan dilakukan, pada penelitian yang dilakukan oleh Raodah menggunakan metode pembelajaran berbasis masalah saja, sama seperti yang penelitian yang akan dilakukan, akan tetapi peneliti menggunakan dua metode yakni akan menggunkan metode kooperatif tipe STAD juga, dengan materi akan dibahas juga berbeda. Pada penelitian yang dilakukan oleh Rauhun ada kesamaan dengan penelitian yang akan dilakukan, kesamaannya terlihat pada penggunaan metode kooperatif  Tipe STAD dan metode penelitiannya sama menggunakan eksperimen, tapi penelitian ini  menggunakan dua metode sehingga berbeda. Pada penelitian yang dilakukan oleh Iroyani menggunakan metode Kooperatif tipe STAD. Jenis penelitianya yaitu Penelitian Kuantitatif deskriftif untuk mata pelajaran Sosiologi.
Berdasarkan beberapa telaah pustaka yang telah peneliti kaji, peneliti dapat simpulkan bahwa penelitian yang akan peneliti teliti belum diteliti oleh siapapun untuk itulah peneliti mencoba mengambil judul penelitian “Perbandingan Pembelajaran Berbasis Masalah dan Kooperatif Tipe STAD dalam Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Materi SPLDV Pada Siswa Kelas VIII Semester Ganjil SMP Negeri 2 Lingsar Tahun Pelajaran 2013/2014”.
C.       Kerangka Berpikir
Untuk sampai kepada pembahasan penelitian ilmiah, perlu diketahui lebih dulu kerangka berpikir ilmiah. Hal ini merupakan landasan yang memberikan dasar-dasar pemikiran yang lebih kuat sebagai tempat berdirinya hasil-hasil penelitian tersebut.[18] Upaya meningkatkan hasil belajar siswa pada pelajaran matematika di sekolah adalah dengan memilih model pembelajaran yang tepat dalam proses pembelajaran. Salah satu model pembelajaran tersebut adalah pembelajaran kooperatif atau pembelajaran inovatif. Dalam pembelajaran kooperatif mencangkup kelompok-kelompok kecil siswa yang bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan suatu masalah, atau menyelesaikan tugas untuk mencapai tujuan bersama lainnya. Dalam pembelajaraan kooperatif , siswa dapat saling berinteraksi, saling memunculkan strategi-strategi pemecahan masalah, memahami konsep-konsep yang sulit, serta menumbuhkan kemampuan bekerjasama. Pembelajaran kooperatif memiliki dampak positif terhadap siswa yang rendah hasil belajarnya.
Dalam mengajarkan matematika kita harus berusaha agar anak-anak itu lebih banyak mengerti dan mengikuti pelajaran matematika dengan gembira, sehingga minatnya dalam matematika akan lebih besar. Anak-anak akan lebih minatnya dalam matematika bila pelajaran itu disajikan dengan baik dan menarik. Dengan menggunakan model pembelajaran yang inovatif maka anak-anak akan lebih tertarik dalam pelajaran matematika. Guru dapat memilih model pembelajaran yang sesui dengan materi yang akan disampaikan. Dalam hal ini ada dua model pembelajaran Inovatif tipe PBL dan kooperatif tipe STAD. Kedua model pembelajaran ini mempunyai keistimewaan yaitu siswa selain bisa mengembangkan kemampuan kelompok juga mengembangkan kemampuan individu.
Pembelajaran PBL dan STAD merupakan model pembelajaran yang menuntut keaktifan siswa. Siswa dituntut untuk berpikir kritis dalam pembelajaran. Dalam proses pembelajaran siswa dapat menyelesaikan masalah-masalah yang dikaitkan dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun kedua metode bertujuan untuk memecahkan masalah namun dalam proses pembelajarannya berbeda.
Adapun perbedaan dalam pembelajaran PBL dan STAD yaitu pada langkah pembelajarannya, dengan adanya perbedaan itu maka peneliti ingin mengkaji apakah dengan menggunakan pembelajaran yang berbeda tersebut akan memberikan hasil belajar yang berbeda atau tidak.
 








Gambar 2.1.Kerangka Pikir
D.       Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah pernyataan tentatif yang merupakan dugaan atau terkaan tentang apa saja yang kita amati dalam usaha untuk memahaminya.[19] Adapun hipotesis yang peneliti ajukan dan selanjutnya akan dibuktikan dalam penelitian ini adalah terdapat perbedaan antara pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran kooperatif metode STAD dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII pada mata pelajaran  Matematika materi  aljabar di SMP Negeri 2 Lingsar.



[1] Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta, 2006), h. 61.
[2] Irzani, Pembelajaran Matematika, (Yogyakarta:  Mandiri Grafindo Press, 2010), h.6.
[3] Syahrir, Metodologi Pembelajaran Matematika, (Yogyakarta: Naufan Pustaka, 2010), h.4
[4] Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta, 2006), h.9
[5] Irzani, Pembelajaran Matematika, (Yogyakarta:  Mandiri Grafindo Press, 2010), h.4.

[6] M.Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT. REmaja Rosdakarya,2006), h. 84
[7] Oemar Hamalik, Metode Belajar Kesulitan-Kesulitan Belajar, (Bandung: Tarsito, 2005), h.21
[8][8] Abin Syamsyudin, Psikologi Kependidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), h. 156
[9] Syaiful bahri Djamarah, Prestasi belajar dan kompetensi guru, (Surabaya: Usaha Nasional  ,2012). h.19
[10]Hamzah, Teori Motivasi dan Pengukurannya, ( Jakarta: Bumi Aksara, 2012), h.15
[11] Nurhadi, dkk.,Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya Dalam KBK, (Malang: Universitas Negeri Malang , 2004), h.55.
[12] Ibid., h.56.
                [13]Nurhadi, dkk.,Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya Dalam KBK  ,(Malang: Universitas Negeri Malang, 2004), h.56.
                [14]Nurhadi, dkk,Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya Dalam KBK, (Malang: Universitas Negeri Malang, 2004), h.57.
[15] Ibid.,h.59.
[16]Nurhadi, dkk,Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya Dalam KBK, (Malang: Universitas Negeri Malang, 2004), h.56.
            [17]ibid, h.51.
[18] Mardalis, Metode Penelitian, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), h.15
[19] Nasution, Metode Research, (Jakarta : Bumi Aksara, 2004), h.39
/* kiki share */

0 komentar:

Posting Komentar